Sabtu, 11 Juni 2011

Malu Dalam Ajaran Islam

Kata malu terambil dari akar kata hayah yang artinya hidup. Dalam al Qur'an kata ini selalu diulang, yang menunjukkan betapa pentingnya teks tersebut sebagai peringatan kepada manusia. Sementara itu Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih sebagaimana diriwayatkan imam Bukhari dari Abu Hurairah ra, bahwa malu itu cabang nya iman/al haya-u syu'batu minal iman. Dan di dalam riwayat al Hakim dikatakan bahwa malu dan iman saling berpasangan. Bila satunya hilang maka yang lain juga hilang. Dan malu itu adalah fithrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia, sebagaimana juga iman, seperti pernyataan al Qur'an berikut :
Maka syaitan membujuk keduanya (Adam dan Hawa memakan buah khuldi) dengan tipu daya. Iblis ,tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga... Qur’an surah al-A’raf : 22.
Ayat di atas menunjukkan bahwa secara fitrah manusia merasa malu jika tidak berpakaian.  Allah memberikan sifat malu agar manusia menahan diri dari keinginan-keinginannya sehingga tidak berprilaku seperti hewan. Adapun orang yang berupaya menelanjangi dirinya dari pakaian, sama ada ia melucuti jiwa dari pakaian keimanan dan menghilangkan sifat malu kepada Allah dan manusia. Mereka itulah yang menginginkan dirinya lepas dari fitrahnya dan sifat-sifat kemanusiaannya. Padahal dengan fitrah dan sifat kemusiaannya itulah ia di sebut sebagai manusia.
          Sesungguhnya telanjang adalah sifat asli dari hewan, manusia tidak punya kecenderungan kepadanya, jika sampai ada tentulah akan terjerumus dalam lumpur hewaniah. Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih ada dalam dirinya dan terpelihara. Sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah penciptaannya  dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, dewasa ini banyak sekali wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia dan terpuji itu dari dirinya. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai  kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki. Mereka tidak hanya mengumbar kecantikan tubuhnya untuk dilihat orang banyak, tapi juga sudah ikut menjarah uang orang lain tanpa hak.
Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW, “di atas. Hadis ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan al Dzahabi menyepakatinya. Rasululloh SAW pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. dan bersabda,  “Tinggalkan dia. Sesungguhnya malu itu bahagian dari iman”.
Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa malu yang dimilikinya. Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak memiliki rasa malu dan terbiasa berbicara kotor, maka pada dirinya tidak akan ada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada hanya kejahatan.”
Dan jika kita melihat apa yang sedang terjadi di negara yang sangat kita cintai ini, hampir seluruh lapisan masyarakat sudah tidak punya rasa malu lagi. Dari korupsi yang membawa kepada kematian, sampai rebutan kursi PSSI yang tidak berprestasi, dan anggota dewan yang tak relawan, kerjanya cuma jalan-jalan menghabiskan uang miliaran. Disamping itu peran cendikiawan dan agamawan pun sepertinya tak relevan. Karena mereka juga mencari uang setoran. 
Sebagai orang yang masih perduli kepada bangsa ini, siapa pun kita, marilah kita melirik kepada diri kita dengan membuat satu pertanyaan saja, "apakah diriku masih punya rasa malu". Jika ya, maka itu artinya kita masih punya iman.